Selasa, 03 Juni 2014

rindu di atas kereta

Di atas kereta ini, pada malam itu, sewaktu perjalananku kembali ke rumah yang hangat, aku merindukanmu. Rindu yang menyesakkan dada, hingga aku harus kembali belajar untuk menata napas satu satu. 

Apa kau tau, aku ingin duduk disini bersamamu. Aku ingin menceritakan semua cerita yang masih berhasil aku ingat ingat, dan sedikit berharap kau tertawa mendengarnya. Aku pun ingin mendengar ceritamu, tentang dunia dunia yang hanya aku lihat dari jauh, tentang cerita misteri, dan lelucon yang kadang kadang mengejutkkan. Lalu kau menggodaku dengan lelucon yang berulang ulang, tetapi tetap menyegarkan. 

Kemudian aku tersadar, nyatanya aku duduk sendiri di bangku kulit sintetis ini dan memandangi jendela keluar. Di luar malam yang gelap, sawah sawah dan desa desa sepanjang rel tidak terlihat, karena silaunya lampu gerbong ini. Dan pantulan diriku saya yang tergambar jelas di jendela, sebuah wajah menyerah pasrah. Denting piano mengawali lagu mengalunn di telingaku lewat earphone ipod yang mulai kehabisan baterai. Dan sebuah lagu John Legend menguasai pendengaranku.


'Cause all of me loves all of you
Loves your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me, 
All give my all to you
You're my end and my beginning
even when I lose I am winning

Cause i give you all of me
and you give me all of you

Sepertinya aku tidak kuasa membendungnya, menahannya. Air mata hangat ini mengalir perlahan, saya seperti berada di dimensi lain, seakan berada di luar gerbong itu. Saya seperti berada di sebuah pinggir pantai berbatu, di sebuah semenanjung buatan, dan angin minggu pagi yang hangat. Tapi aku sendiri, menahan dada yang terasa sesak.




aku merindukanmu.






Minggu, 25 Mei 2014

bangga untukmu, dear

Dalam beberapa tahun sepanjang perjalanan saya, saya pernah berprofesi sebagai guru les part timer. Suatu pengalaman mengajar yang menyenangkan, naik turun, dan penuh cerita. Saya menemani murid lesku yang rata rata murid SMP belajar Bahasa Inggris dan Matematika di rumahnya. Dengan bayaran 15ribu - 40ribu setiap kali datang, saya menikmati pekerjaan paruh waktu itu sebagai usaha cari tambahan uang saku waktu kuliah. Haha.

Murid pertama saya bernama Bintang, siswa kelas 3 SD Al Azhar Syifa Budi Solo, mungkin saat ini dia sudah SMA. Kemudian disusul murid lainnya yaitu Chacha, Tita, Lintang, Tina, Vania, Wahid, Ayu, Farda, Aziza, Dawinta, Dian dan Arisa. Setiap murid dan keluarganya mempunyai karakter unik tersendiri dan selalu menyisakan cerita baik tentang akademisnya maupun kedekatan mereka secara personal. Salah satu murid saya yang menyenangkan dan memiliki kedekatan dengan saya sampai sekarang adalah Lintang Tunjung Sekar, atau lebih akrab dipanggil Dik Lintang. 

Dik Lintang, gadis manis penyuka anime ini, membuat pengalaman ngelesi bersamanya selalu menyenangkan karena dia selalu nurut dengan instruksi belajar yang saya berikan dan suka menceritakan kehidupan SMP nya dan minatnya pada anime. Saya pun nggak kalah cerewetnya menceritakan kehidupan dan kegiatan organisasi dan komunitas kampus di sela sesi les kita, setidaknya  dulu saya ada harapan dia terinspirasi atau terpacu belajarnya dari apa yang saya ceritakan.

Tiga tahun lalu saya menemani Dik Lintang belajar mempersiapkan UAN SMP khususnya Bahasa Inggris selama setahun. Saya masih ingat betul suasana belajar di ruang tamu rumahnya, Saya masih hapal jalanan menuju rumah yang bercat putih, dengan pagar besi hijau, banyak pepohonan rindang dan lokasi rumahnya di sekitar belakang Terminal Tirtonadi. Saya masih ingat betul ibunya yang ramah dan adek yang gendut dan lucu. Dan lagi, snack yang sudah siap tersaji bersama segelas teh hangat setiap kali datang. Belajar bersama Dik Lintang di rumahnya selalu tanpa meja, jadi kita selalu ndlosoran dan sering aku yang terkantuk kantuk karenanya. Hahaha

Satu tahun berlalu, dan kita mengakhiri periode les itu. Dek Lintang lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Saya melanjutkan kesibukan kuliah dan les di tempat lainnya dan Dik Lintang melanjutkan studynya ke tingkat selanjutnya. Meski tidak bertatap muka lagi, sampai sekarang saya dan Dek Lintang masih sering berkomunikasi lewat jejaring sosial dan melihat perjalanan studynya lewat foto foto yang dia unggah.

Dulu dia agak pesimis mengenai nilai dan sekolah yang ia akan tuju. Tapi kemudian dia mengabarkan bahwa dia masuk SMK 2 Surakarta (Salah satu sekolah kejuruan terfavorit di Solo) dengan jurusan Teknik Audio Visual. Wiiih, mantaap.. rasanya saya ikut meluap lupa mendengar kabar gembira itu. Selain itu dari foto foto yang ia unggah di jejaring sosial, saya tahu bahwa dia sangat menikmati masa sekolahnya bersama teman temannya, dan aktif dalam kegiatan sekolah. Inilah perasaan bangga dan bahagia saya manjadi bagian sejarah perjalanan studynya Dik Lintang, meskipun cuma menjadi guru les, dan temen bercerita selama les :).


Dan kemarin adalah kelulusan SMA SMK se Indonesia, dan Dik Lintang mengunggah foto kelulusan dan wisuda SMK nya. Perasaan bangga masih memenuhi diri saya bahwa, murid saya inipun berhasil melalui masa SMKnya dengan sukses dan gembira. Sekarang dia siap menghadapi gerbang perkuliahan, dan selalu, saya mendoakan yang terbaik untuknya, dalam perjalanannya beribadah menuntut ilmu dan meraih cita cita.



Good Luck selalu, Dek Lintang.. 
i am so proud of being part of journey :)






sunday @pink office

nengokin kebun buah

Haloo.. hehe maap late post untuk postingan kali ini. Well, sepertinya sayang juga sih kalo g mengabadikan cerita petualangan kecil saya beberapa minggu yang lalu lewat tulisan di blog. Kali aja ada yang terinspirasi buat cari tempat liburan, dan sekalian mempromosikan wisata Jogja. hehehe.


Here we go, 


Beberapa waktu lalu, saya terserang kebosanan tingkat dewa. Bosan tentang kerjaan yang enggak membuat saya banyak bergerak dan berpikir. Malah jadi gampang stressful dan ngedrop. Dari situ saya meniatkan diri untuk segera refreshing dan mengajukan permohonan pindah kantor saking g kuatnya. 


Eeh.. malah ngedrop lagi sebelum mengajukan pindah kantor dan refereshiing. Dalam 6 minggu saya ngedrop 3 kali, praktis dalam 2 minggu sekali saya ngedrop. Ngedrop disini tuh panas, dingin, pusing, batuk, lemes dan sebangsanya saking dinginnya area kerja saya ini. Imunitas saya jadi bener bener KO. Setelah mengunjungi Pak Dokter, saya didiagnosa kena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Parah?? No. Hanya imunitas jadi lemah karena cuaca ekstrem dan pernapasan dan alergi alergi yang mengganggu, di tambah adanya efek hujan abu erupsi Gunung Kelud. Komplit sudah.. :(


Suatu pagi di hari Jumat, saya buka FB (seperti biasanya) dan masih kondisi marahan sama Captain, karena enggak ditegokin pas sakit kmren. Huh! Kadang enggak ngerti what's in his mind, kan saya bukan pembaca pikiran, makanya sharing doong. Pada Home Facebook saya lihat ada postingan foto temen fotografer, sebuah tempat yang keren banget dan hijau di Jogja. Tanpa ragu lagi, saya langsung memutuskan, itu destinasi saya touring akhir pekan ini. Yeaaahh, back to nature. 


Untuk merealisasikan surprising plan ini, saya tidak memberitahu Captain destinasi saya, cukup menginfokan bahwa kita berangkat pagi dan siapkan armada roda dua (biar romantis *halah). Setelah sedikit nanya nanya dan googling acak, saya packing kecil kecilan, charging batre hape, kamera, dan ipod sampe penuh, dan meluncur ke stasiun Purwosari menuju Jogja, berkereta lagi... oh I love it :)


Yep, kereta lokal, Jogja Solo pagi itu, Sriwedari Express. Cukup bayar 20.000, saya mendapatkan pelayanan kereta yang sesuai ekspektasi saya, longgar, bersih, rapi dan adem. Quick look inside the train. 





 Walaupun cuma 1 jam berjalanan, saya menikmati perjalanan berkereta api pagi itu. Hawa segar, dan pemandangan sawah yang hijau di kanan kiri rel kereta api, serta music yang mengalun lewat earphone, seperti sebuah kombinasi pagi yang sempurna. aseeekk. Lihat saja, sinar matahari pagi yang hangat lewat jendela jendela kereta. Amazing. 







Ini nih bagian paling susah: ngebangunin Captain. Setelah usaha menelepon beberapa kali, akhirnya makhluk ganteng (kalau abis mandi) ini bangun juga dan buru buru bersiap jemput makhluk cantik yang sudah mandi (tentu saja itu saya :P). Sambil menunggu Captain jemput, saya menghampiri warung 24 jam depan stasiun Lempuyangan Jogja. Sarapan pagi dulu, mie rebus dan telor di depan stasiun Lempuyangan di tengah suasana stasiun yang khas, porter, supir taksi, mahasiswa yang pulang mudik, keluarga kecil yang mau jalan jalan, tukang becak yang sarapan bareng, dan dialek khas Jogja menyenangkan. 


Setengah jam kemudian, Captain dateng dengan Vario Tech yang juga ganteng (*halah apaan sih). Wajah bersih (abis mandi sih) tapi masih ngantuk itu ngirit senyum, padahal sayanya cengengesan nggak jelas. Maklum, udah beberapa minggu  nggak ketemu, kangen ceritanya. Ok, skip bagian romantis romatisannya nya. Kita langsung meluncur ke destinasi, saat itu baru saya deklarasikan dengan pede ke Captain, pagi itu kita akan jalan jalan ke Kebun Buah Mangunan, Manding, Bantul, Jogja. (*kepedean). 


Kita menikmati perjalanan pagi itu, traffic longgar dan cuaca sedikit mendung. Kita ambil jalur jalan Parang Tritis, dan kita terus melaju ke selatan, ke arah Bantul. 30 menit lebih berlalu, Captain mulai curiga aja. 
" Bener nih, kebun buahnya di Manding?" tanyanya. 
"Iya, kemaren udah aku googling koq" jawab saya. Tiba tiba ragu trus googling lagi di smartphone. Lamaaaa banget loadingnya. 
Sambil berkendara pelan pelan, kita telah melewati daerah Manding dan tidak menemukan tanda tanda adanya kebun buah. Cling, berakhir juga loadingnya dan saya baca perlahan lahan dengan innocent nya " Kebun Buah Mangunan, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta" 

Haaaaahh??!!" 
Seketika, Captain menghentikan laju motornya, dan menepi, mengambil smartphone (yang lebih keren) di kantongnya  dan googling. Sial. Loading smartphone dia super cepat. 
"Sayang, tau nggak Dlingo itu mana?" tanyanya dengan muka kesel. 
"G tau, maap, salah baca info.. aku pikir di Manding" masih muka memelas. 
Ingat, salah baca info di website bisa berakibat fatal saat berwisata. 

"Dlingo itu kecamatan paling ujung di Bantul, udah perbukitan, sebaliknya bukit udah pantai tuh, beda kecamatan (Gunung Kidul/Kulon Progo--lupa ah). Dan kita melaju jauh di arah yang salah. Koq bisa sih Dlingo jadi Manding, hadeeewh"
"Huks.. maap.. jadi gimana dong"
"Kesiangan nggak klo kita ke sana? butuh 1,5 jam sampe sana. Dan semoga sih g hujan, apa ganti destinasi aja?"
Dan negosiasi antara jadi berangkat ato enggak pun berlanjut dan berakhir dengan saya ngambek. :P

Captain g tega kali melihat saya yang kecewa berat, dan diem dieman. Akhirnya Captain puter arah dan kembali ke jalur jalan utama. Aku pikir kita akan kembali ke Jogja kota. Ternyata Captain mengarahkan motornya menuju ke Imogiri, Bantul dan lanjut ke Dlingo. Kita sama sama mencari Taman Buah Mangunan. ;)

1,5 jam perjalanan ke selatan, kita melewati desa desa pinggir jalan, pasar tradisional, dan sekolah sekolah negeri. Kita mengikuti petunjuk jalan menuju ke Imogiri, dan Dlingo. Ketika jalanan mulai menanjak dan mengarah ke perbukitan, nah, kita baru yakin nih kita menuju ke jalan yang benar (tiada lagi tersesat). Hawa terasa lebih segar karena banyak pepohonan dan hutan hutan kecil di kiri kanan jalan. Melewati Kompleks Makam Raja di Imogiri, Melewati Kelurahan Mangunan, menanjak dikit, dan sampailah kita di Kebun Buah Mangunan di atas bukit.  

Dengan tiket IDR 5000 kita bisa masuk ke tempat wisata ini. Komentar pertama ketika memasuki area wisata: Sejuk, segar dan tenang, di tambah dengan suara suara kicau burung yang menenangkan. Komentar kedua: mana buahnya nih??? Whaduuh. Ternyata saat kita di sana memang bukan musim panen buah, jadi yang terlihat berbuah hanya pohon pohon rambutan dengan buah merahnya yang menggantung. Selebihnya tidak ada, hanya rerimbunan pohon saja. Harapan kita terakhir adalah gardu pandang. Spot paling asik untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa dari puncak bukit. Yes.... dan inilah.. Gardu Pandang Kebun Buah Mangunan. 



Dari gardu pandang inilah kita bisa membebaskan pandangan kita, 





Okeeeeh,, foto foto dulu deh sama yang hijau hijau.. 





Mengamati alam dari Gardu Pandang. Subhanallah, beautiful bingiiiitt... hehe



Saya lupa ternyata hari itu hari minggu, jadi banyak anak muda yang berpikiran sama seperti kita untuk refreshing di sana. Haiiih, aku pikir tempatnya bakalan eksklusip karena belum banyak pengunjung. Ternyata cukup rame juga. 

muka bete dan masih ngantuk karena di paksa melayani napsu berpetualang di hari minggu saya.. wkwkwkwk


Nah tuh.. kalo gini kan ganteng (meskipun efek abis mandinya sudah banyak berkurang).. hehe




ending postinganya di tutup dengan foto sok sokan dramatis. Hahaha. 

Yeep, begitulah sepenggal cerita petualangan kecil saya sama Captain ke Kebun Buah Mangunan. Meskipun tempat wisata ini belum secara maksimal dikembangkan, tetapi ini salah satu wisata di jogja yang sangat recomended untuk merefreshkan diri, membebaskan mata ke pemandangan, dan menikmati tenangnya alam. 
So pack your bag, siapkan bekal, let get another adventure. yeaaayy!! :D

senyum saya

Meskipun sekarang ini, saya dikenal sebagai cewek imut yang suka cengengesan dan senyam senyum nggak jelas, hehe. Dulu saya tidak terlalu suka dengan senyum saya lho, lebih tepatnya tidak suka dengan senyum lebar saya. Kenapa demikian? Hmm... Hal itu dikarenakan saya tidak merasa cantik dengan seyum saya....tapi itu dulu sih. Okay, let me share my story :)

Well, frankly speaking, semua wanita ingin terlihat cantik dan sempurna. Hanya saja... kadang wanita gampang terpengaruh standarisasi cantik seperti di iklan iklan tipi yang lalu jadi semacam doktrin bahwa cantik itu persyaratannya ini, ini, ini, dan itu. Tubuh semampai, rambut indah tergerai, kulit putih, wajah lonjong cantik ala korea, dan senyum menawan dengan deretan gigi yang rapih. Nah, this story is all about. 

Dulu saya berpendapat bahwa my smile is a bit weird. Weird karena deretan gigi yang enggak mau berbaris dengan rapi ditambah dengan gigi taring yang suka terlalu mengeksposkan diri alias gingsul. Hehehe. Dulu pernah sih beberapa tahun lalu, merencanakan untuk mengenakan brace untuk merapikan susunan gigi yang sebenernya emang ada genetis keluarga dengan rahang sempit dan gigi yang penuh. Yes, kakakku mengalami kendala yang sama mengenai susunan giginya, mungkin lebih berantakan lagi, dan sampai saat ini dia masih mengenakan brace sejak 3 tahunan lalu. 

Sebenarnya saya tidak mengalami kendala yang berarti dengan susunan gigi ini yang berkaitan dengan pencernaan mekanik. Hanya saja memang waktu itu percaya diri saya belum ter boosted, dan kekhawatiran berlebihan tentang pandangan orang lain tentang look an performance.

Selain masalah pergigian dan percaya diri, saya juga berpendapat bhawa senyum lebar saya ini, membuat wajah saya semakin bulat, pipi bakpao ini semakin mengembang, hidung ikut ikutan mengembang, dan lesung pipit pelit terekspose karena hanya ada satu lesung pipit aja, di pipi kanan. 

And life goes on..

Sepanjang perjalanan ke sini, saya mulai menyadari bahwa banyak hal tentang diri saya yang tidak pernah saya perhatikan. Bahkkan saya sering mengabaikan dan tidak percaya pujian pujian kecil yang positif tentang saya yang kelebihan energy (dan lemak) ini. Dinar lucu, gayeng. semangat, booklover, tembem, unik lebih sering saya dengar dari pada Dinar dengan senyum yang aneh. Dan bagi beberapa orang, pipi dan wajah bulet itu lucu, gingsul itu manis, dan lesung pipi satu itu unik, daan.. senyum lebar itu menyenangkan. Dan begitulah percaya diri terbangun semakin kuat sampai sekarang.

Yaap, dan disinilah saya sekarang, bukan tentang brace yang saya pikirkan, bukan lemak yang saya pusingkan. Saya punya standarisasi cantik menurut saya sendiri, bersih, banyak ilmu, menebar semangat lewat senyum, tawa dan karya. :)

Yess,  kita jarang menyadari bahwa banyak orang bisa jatuh cinta dari tersenyum kita dan atmosfer yang kita bawa. Show us the way you are. Since you're beautiful.. :)

senyum manis tidak memiliki standarisasi paten. :D




terimakasih, cinta :)



Rabu, 23 April 2014

resolusi april

My first note in April. Maaf jarang posting dikarenakan managemant waktu saya yang masih buruk aja sampai hari ini, hehe. Hello, April, I am now officially 25 dan siap menghadapi hal hal baru di usia seperempat abad ini.  Paling enggak harus ada resolusi baru untuk menjadi lebih dan lebih baik dari pada tahun tahun sebelumnya, bukan?


Being 25, menjadi 25 tahun di April ini. Sedikit mereview ke belakang mengenai bulan selalu istimewa bagi saya.  April ini, genap 2 tahun saya terjun ke dunia kerja, di perusahaan yang sama. Di kantor dan pabrik yang banyak orang ini. Mungkin waktu yang masih terbilang singkat dalam perjalanan berkarir, tetapi alhamdulillah banyak hal yang saya pelajari selama 2 tahun ini. Di dunia kerja, saya belajar bersosialisasi dengan banyak orang dengan berbagai usia dan latar belakang. Saya bertemu dengan bebagai karakter orang dan perangai orang, dan dari situlah saya juga belajar. Saya bertemu orang orang hebat dan luar biasa, inspiratif, dan saya sangat bersyukur akan hal itu.


Dari interaksi dan sharing bersama teman teman kerja yang beragam inilah saya menangkap banyak pelajaran pelajaran tentang pengalaman hidup, keluarga, pekerjaan, dan pelajaran spiritual. Tentang kehidupan yang up and down, tentang cerita cerita unik dan hal hal yang mungkin tidak pernah saya duga bisa terjadi. Kemudian berkaca pada keadaan saya sendiri, sedikit komparasi, ouwh.. saya merasa bertapa beruntungnya saya ini, tapi sejauh ini fighting spirit dan rasa syukur saya masih kurang kurang aja. Konsistensi saya masih lemah untuk terus melakukan perbaikan diri. Fiuuuh...


Beberapa hari saya juga memikirkan hal hal kecil tentang menjadi bahagia. Saya berasumsi bahwa semua orang berhak bahagia, dan semua orang berhak mengusahakan hal yang membuatnya bahagia. Meskipun ada hal hal kecil yang mungkin bagi kita adalah hal yang biasa, tetapi bagi orang lain adalah hal yang sangat membahagiakan. Dan enggak ada salahnya kita sedikit mengabaikan ego kita, melakukan hal hal kecil, yang bisa membuat orang lain bahagia. Dan hal satu ini masuk dalam resolusi terus menerus kedepannya, mengusahakan bahagia, dan berusaha membahagiakan sekitar kita.






Nah, saya percaya tidak ada kata terlambat untuk selalu menjadi baik setiap harinya. Setiap bangun pagi yang efektif (bangun pagi efektif= langsung bangun, sholat subuh dan beres beres, bukan balik tidur dan glundang glundung di kasur) adalah sebuah permulaan untuk mensukseskan sebuah hari. Kalau hari pertama sukses, hari kedua sukses, jadi satu minggu yang sukses. Minggu yang sukses, jadi bulan yang sukses, berbulan bulan berhasil.. kemudian jadi kebiasaan, habit yang baik. Insya allah. Iih.. jadi semangat deh.. hehe. Mensukseskan hari dari bangun pagi dan terus bergerak.


Okaii..  April ini, seakan membisik bisik “wooi Dinar, wake up! Jangan bermalas malasan lagi. Bangun, berkarya, dan mengusahakan bahagia!”. Ya, mungkin seperti itu lecutan semangatnya. Semoga berhasil. :)
Bismillah,



_morning before going to work_

Minggu, 09 Maret 2014

pensiun Bapak

Maret ini, Bapak  resmi pensiun. Secara resmi menurut hukum kepegawaian sudah tidak berkarya lagi sebagai abdi negara, sebagai Guru Olahraga SD yang telah mengabdi mengajar selama 30 tahun. Masa kerja Bapak sudah selesai, dan kini menyandang status baru yaitu pensiun.


Sebelumnya Bapak saya ini bekerja sebagai Guru Olahraga di sebuah SD Negeri di perbatasan paling timur Klaten, yaitu SD Sidowarno I, Kecamatan Wonosari. SD yang dikelilingi persawahan yang hijau dan dekat dengan sungai Bengawan Solo sebagai perbatasan Klaten-Sukoharjo. Perjalanan naik kendaraan bermotor dari lokasi rumah ke tempat kerja Bapak memakan waktu sekitar 20-30 menit. Dan bisa lebih bila ditempuh dengan sepeda. Dan Bapak pernah merasakannya selama beberapa tahun mengajar. 


Saya merasakan benar rasanya jadi anak PNS Guru dengan penghasilan yang tidak seberapa waktu itu. Naik turun kehidupan ekonomi yang berdampak pada kepemilikan dan kebutuhan akan kendaraan bermotor waktu itu, menyebabkan keluarga saya ini sering berganti kendaraan bermotor, seringnya motor secondhand. Dan pernah dibeberapa waktu Bapak dan mas Andre bersepeda ke tempat kerja atau kampus. Saya lebih sering di jemput atau kendaraan umum karena jarak sekolahan yang cukup jauh dan jumlah kendaraan umum yang terbatas.


Bapak saya sangat kuat dalam menanamkan harapan dan cita cita kepada anak anaknya. Bapak tidak pernah menghalangi anak anaknya memilih sekolah mana yang mau mereka masuki, jurusan apa yang mereka pilih, dan bahkan selalu siap membiayai les tambahan. Dulu saya tidak berpikir dari mana Bapak bisa mendapat uang untuk membiayai semua kebutuhan edukasi saya dan kakak. Sekarang saya terharu bila berpikir tentang hal itu karena sudah bisa berpikir tentang income dan expense. Pasti Bapak dulu berusaha sekuat tenaga untuk mencukupi semuanya dan usaha kanan kiri :(


Alhamdulillah cita cita Bapak tercapai, doa Bapak Ibu dikabulkan oleh Allah SWT. Bapak dulu sering menyatakan bahwa setidaknya anak anaknya harus berpendidikan lebih tinggi dari Bapak (Bapak lulus SMA, tukang kayu dan bangunan beberapa tahun dan program guru 1-2 tahun, bukan sarjana pendidikan), dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Meskipun sampai sekarang belum ada anak anak Bapak yang meneruskan karir mengajarnya, namun setidaknya anak anaknya telah menyelesaikan studi pendidikan tinggi masing masing dan telah memiliki penghasilan dan membuat cerita yang bisa membuat Bapak bangga. 


Bapak saya ini pria yang sederhana, dan pribadi yang suka berkecimpung di dunia sosial. Pernah jadi coach sepakbola pemuda kelurahan, pernah jadi bendahara RW, jadi penanggung jawab koperasi RT, jadi KPU kelurahan, sampai jadi anggota wali murid di SD ku. Saya sendiri sangat bangga saat melihat Bapak bertugas di lingkungan masyarakat sekitar, dan tidak bisa dipungkiri juga saya ikutan tenar dengan label " Anak e Pak Guru Yamto". Hehehe


Bapak saya, Bapak Suyamto yang sangat saya sayangi, adalah pacar saya nomer satu. Pacar nomer satu saya yang mau repot repot setiap pagi mengantarkan saya ke sekolah yang cukup jauh, dan  lagi, berbeda arah dengan tempat kerjanya. Dan yang rela hati menjemput saya malam malam di sekolah pulang latihan teater. 


Bapak yang setiap malam di masa kecilku menceritakan cerita sebelum tidur tentang Batu Menangis, Kancil Nyolong Timun, Timun Mas, dan cerita wayang. Bapak yang mendendangkan lagu lagu nina bobo ciptaan sendiri yang sangat payah nada dan liriknya, dan Mocopat yang sekarang saya sangat banggakan karena banyak generasi saya yang ternyata tidak bisa menyanyikan lagu yang menjadi indentitas budaya Jawa itu. Saya merasa jadi anak memiliki The Best Daddy on Earth. :)




Bapak yang selalu menonton pertandingan olahraga di TV mulai dari sepakbola, tinju (selalu rebutan acara tv minggu denganku), volly, bulutangkis, dan balap motor. Bapak yang selalu ceria menceritakan kebanggaannya ketika bercerita betapa murahnya biaya kuliah saya karena lulus test SPMB dan beasiswa prestasi yang saya terima. Dan Bapak saya yang sebenernya gigi depannya ompong kayak Mas Wowo, tapi pakai gigi palsu. Hehehe. Bapak saya yang segala buat keluarga kita. :)


Kembali tentang pensiun Bapak. 

Saya tidak tahu apakah ini perasaan khawatir atau apa. Saya berpikir bahwa besok besok pasca pensiun mungkin Bapak akan sangat merindukan meja kerjanya, akan merindukan lorong lorong sekolahnya, dan anak anak muridnya yang ramah dan ceria itu. Rekan kerjanya yang sangat terasa kekeluargaannya dan kesibukan bekerja. Atau mungkin malah Bapak akan menikmati kebebasan setelah lama bekerja, dan akan menyibukkan diri di rumah saja. Entahlah, saya hanya berharap yang terbaik buat Bapak. 


Oiya, Bapak senang kemaren menerima banyak hadiah hadiah dari rekan rekan dan anak muridnya setelah acara perpisahan di sekolahan (horor amat, katanya pada nangis semua, woow). Ada sajadah, baju koko, peci, kain batik, hiasan dinding, dan sprei set (langsung aku claim.. hahaha) dan banyak lagi. Beberapa hari ini ada beberapa anak murid yang rajin smsan sama Bapak, katanya udah kangen aja. Hehe. Hal hal ini semakin membuat saya bangga pada Bapak saya ini, my Dad is loveable :)











Sehat selalu, Bapak
Kami mencintaimu.. selalu dan sangat



on my bed in the chilly nite

edelweiss itu

Beberapa hari lalu saya membaca kembali buku 5cm, setelah sekarang resmi memiliki bukunya (dulu waktu SMA sukanya minjem.. hehe). Inti cerita dari novel itu tentang kekuatan tekad yang kuat dalam meraih mimpi, dan di novel itu diceritakan perjalanan keenam tokohnya mencapai Puncak Mahameru yang menjadi perjalanan tak terlupakan dan mengubah hidup mereka. 


Di salah satu chapter dari 5 cm menceritakan perjalanan mereka melintasi tempat tempat yang luar biasa indah di pendakian menuju Mahameru: Ranu Pane, Ranu Kumbolo, Arcopodo, Kalimati, dan padang stepa, sabana yang mengagumkan. Kemudian saya menemukan beberapa paragraf yang menceritakan mereka menjumpai bunga bunga edelweiss yang cantik dan tumbuh di jalur pendakian menuju Mahameru. Saya tiba tiba teringat sesuatu, rasanya seperti tiba tiba me-rewind memory..


2010
Dia bersama beberapa teman MAPALA nya melakukan perjalanan ke Probolinggo untuk melakukan pendakian ke Gunung Argopuro selama seminggu. Dan selama itu pula saya tidak bisa berkomunikasi sama sekali dengannya karena memang tidak ada akses komunikasi sama sekali dengan dia yang sedang melakukan pendakian. 1 minggu tanpa komunikasi, yeaah.. kangen lumayan parah (maklumlah, anak muda lagi awal pacaran :P)


Seminggu yang terasa sangat panjang itu akhirnya terlewati juga. Dia kembali bersama teman temannya ke kesekretariatan dengan look- yang awut awutan dan segala carier dan tetek bengek perlengkapan mendaki. Badannya bau kecut (pasti g mandi bersih) dan kumis dan cambangnya mulai tumbuh nggak beraturan gara gara nggak bercukur beberapa hari (meskipun seksi sih sebenernya.. wkwkwkwk). 


Sore itu dia membagikan beberapa oleh oleh kecil, semacam souvenir dari kerang ke beberapa teman di kesekretariatan karena sepulang naik gunung katanya dia dan teman teman mampir di pinggir pantai dulu. Saya sendiri dapet satu dan masih tersimpan baik di rak bawah meja belajarku. 


Selepas hahahihi bentar, saya mengantarkannya kembali ke kos, dan bersiap pulang. Sebelum pulang, dia memberikan sebuah hadiah kecil lagi kepada saya. Seikat kecil bunga Edelweiss berwarna coklat.








Ekspresi pertama: kaget, ekspresi kedua: seneng banget (kalau dipikir pikir romantis juga yaaah), ekspresi ketiga: tiba tiba jengkel. Saya cukup membaca dan paham bahwa bunga edelweiss adalah tumbuhan endemik yang sudah masuk kategori langka dan dilindungi di beberapa taman nasional di beberapa gunung. Dan menyebalkannya, dia yang notabene anak mapala yang juga paham benar mengenai hal itu malah dengan sengaja membelinya sebagai kenang kenangan, tidak mendukung sepenuhnya usaha pelestarian bunga cantik itu kaan. 

Iyaa sih rasanya seneng banget saat dia punya pemikiran dan keinginan untuk memiliki hubungan yang abadi, cinta yang abadi. Tapi dengan simbolisasi dan mitos pada bunga Edelweiss? For me, It is a big NO. Harapan tentang cinta abadi tidak bisa disimbolkan dengan bunga Edelweis yang istimewa itu. Untuk saya, cinta adalah tentang realitas hidup dan bersama sama menghadapinya dengan saling menjaga dan menyayangi. 


Saat itu juga saya menolak menerima hadiah itu dan mencak mencak (marah marah) padanya. Dia hanya mendengarkan dan sedikit pembelaan diri, yang akhirnya memang merasa bersalah juga. Dia bersikeras aku menerima bunga itu dan menyimpannya dengan ekspresi kecapean, kurang tidur dan mandi. Akhirnya aku luluh juga.. meskipun tetap bunga Edelweiss tidak mempengaruhi pendapatku mengenai tentang mitos  yang ada padanya. It is just bunch of small flowers. Special flowers.




2014

Setelah membaca bagian padang dengan bunga Edelweiss di novel 5cm, aku berusaha mengingat ingat kembali dimana bunga itu aku taruh. Terakhir yang saya ingat, saya menaruhnya di rak paling atas, lemari baju yang lama, bersama boneka boneka lama dan koleksi tasku. Sekarang lemari itu tidak saya pakai lagi dan saya kehilangan jejak bunga Edelweiss itu. Entah ada dimana bunga itu sekarang, sepertinya tidak ada yang berniat membuangnya. Hanya saja saya lupa menaruhnya. Maaf yaa...


Dan mengenai mitosnya tentang cinta.. well, Tuhan mungkin tidak menggariskan saya berjodoh dengan dia untuk ikatan cinta.


and Edelweiss can't help it either..



Bukan disini rumah Edelweiss, 
Rumah Edelweiss ada di dataran tinggi dan di hati kita semua yang membuatnya tetap hidup abadi. 


Tetaplah selalu indah di sana, Edelweiss.. :)






sumber gambar: Google.com



_Nite at Pink Room sambil nyuci baju_